Sikap Dewasa dan Kesuksesan

Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Seorang anak kecil biasanya mengomentari apa yang dilihatnya. Orang tua yang kurang dewasa seringkali mulutnya berbunyi, mengomentari suatu hal. Ketika menonton televisi, misalnya, komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton. Sebalikniya penonton TV yang dewasa akan senantiasa bertafakur. Apapun acara yang ditontonnya, akan senantiasa direnungkan, dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah SWT.

Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa biasanya bisa dilihat dari komentar-komentarnya, makin terkendali, maka akan semakin matang.

Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain. Orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat dikatakan dewasa. Kedewasaan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Semakin orang hanya mementingkan perasaanya saja maka akan semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain maka akan semakin bijak. Percayalah, tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.

Orang yang dewasa, cirinya berhati-hati dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tetapi juga waktu. Setiap detik , setiap tutur katanya, dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan. Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa dapat dilihat dalam kehati-hatiannya memilih kata, mengambil keputusan, mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh. Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya.

Ciri orang yang dewasa adalah sabar dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantab, dan stabil. Seseorang yang dewasa benar-benar punya sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab. Contohnya, seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak dalam cara mencari nafkah yang halal dan mendidik anak istrinya. Bukan masalah kehidupan dunia yang menjadi masalah, mampu tidak ia mepertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akhirat nanti?, ke surga atau ke neraka?. Orang yang dewasa akan berpikir keras bagaimana anak-anaknya bisa selamat, jangan sampai di dunia berprestasi, tapi di akhirat celaka. Tidak cukup merasa bangga dengan menjadi tua, punya kedudukan, jabatan, karena itu sebenarnya hanyalah topeng, bukan tanda prestasi. Prestasi itu adalah ketika kita semakin matang dan semakin dewasa. Kesuksesan adalah bagaimana kita bisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s