Bersaing untuk Masa Kini

Coimbatore Krishnarao Prahalad telah berpulang ke nirwana, 16 April 2010. Sebagai
penerima penghargaan sebagai pemikir, konsultan dan penulis bisnis nomor satu
dunia versi Majalah Time, C.K. Prahalad telah memberi warna luar biasa
pada panggung bisnis kontemporer. Melalui bukunya Competing for the Future
yang ditulis bersama Gary Hamel, Prahalad mengubah paradigma bisnis menyoal keunggulan bersaing. Nubuat Prahalad: jika ingin sukses bersaing dan menjadi pemimpin pasar, perusahaan harus fokus pada satu hal: kompetensi inti.

Prahalad “bersabda”, maka pemimpin bisnis mendengarkan. Begitulah yang terjadi. Kompetensi inti kemudian menjadi bahan kajian paling populer. Alhasil, organ-organ yang ada dalam tubuh bisnis hampir semua tertular virus kompetensi. Tentu, yang paling populer dalam praktik kemudian adalah SDM berbasis kompetensi.

Usia kompetensi inti sudah mendekati angka 20 tahun. Periode ketika turbulensi semakin kencang menerpa lembaga bisnis, pertanyaan yang muncul adalah: Masih relevankah kompetensi inti dalam panggung bisnis kontemporer? Atau jangan-jangan kompetensi inti mati terkubur bersama jasad penemunya? Ternyata tidak. Kompetensi inti tetap mendapat tempat terhormat. Tidak lagi untuk bersaing bagi masa depan seperti judul buku Prahalad, melainkan untuk bersaing pada masa kini.

Dua-tiga tahun lalu, bila kita mendatangi gerai seluler pada hampir semua kota besar di Indonesia, Nokia muncul menjadi jawaranya. Hampir 70% pangsa pasar telepon seluler dikuasai Nokia. Penguasaan pasar luar biasa ini yang menjadikan para praktisi ataupun pengamat tidak berani menganalisis para pesaingnya semacam Sony Ericsson, Samsung dan Motorolla menggusur singgasana Nokia.

Namun, waktu ternyata berjalan cepat. Kedigdayaan Nokia tergerus. Bukan oleh pesaing lamanya. Justru oleh pemain baru. Alhasil, jika kita sekarang mendatangi gerai seluler, BlackBerry (BB)-lah yang menjadi penguasa kelas atas. Adapun kelas bawah-menengah diserbu ponsel buatan Cina yang begitu banyak jenis dan mereknya. Mengapa Nokia tersingkir? Banyak sudah ulasannya. Namun, pendekatan kompetensi inti ala Prahalad dapat dijadikan rujukan paling sahih.

Kompetensi inti merupakan kumpulan keterampilan sebagai akibat dari akumulasi belajar tanpa jeda. Kompetensi inti tidak sekadar aset, infrastruktur, teknologi, sistem ataupun keunggulan bersaing yang dalam bahasa Michael Porter disebut nilai tambah. Lebih dari itu, kompetensi inti merupakan cara dan budaya organisasi dalam belajar sehingga menghasilkan keterampilan yang lebih unggul dibanding pesaing.

Dalam konteks ini, tak dapat dimungkiri bahwa Nokia merupakan organisasi pembelajar dan memiliki manusia-manusia bertalenta luar biasa. Meminjam pendekatan Prahalad, manajemen Nokia tetap peduli pada kompetensi. Hanya saja, kompetensi inti tidak berhenti pada tataran belajar dan keterampilan semata. Ada tiga prasyarat kompetensi disebut inti atau sebaliknya.

Syarat pertama bernama nilai bagi pelanggan. Sederhananya, pelanggan akan menjatuhkan pilihan bila produk bersangkutan bernilai untuknya. Jejaring sosial dengan wakil utamanya Facebook dan Twitter ternyata tumbuh amat kencang dan menjadi gaya hidup baru yang merasuki segala usia. Nilai ini yang dengan cerdas dibidik BB. Mengusung slogan citra telepon cerdas, BB mengabarkan bahwa jejaring sosial beserta produk turunannya akan lebih mudah diakses oleh BB. Bahkan, BB menawarkan aneka fitur sebagai komplemen jejaring sosial. Peribahasa lama, siapa cepat dia dapat ternyata memperoleh legitimasi dalam konteks ini. BB lebih cepat dan lebih duluan memberi nilai tambah kepada pelanggannya dibandingkan Nokia.

Syarat kedua berjuluk perbedaan (diferensiasi) bersaing. Tulis Prahalad, ada dua kompetensi, yaitu kompetensi diperlukan dan kompetensi pembeda. Kompetensi diperlukan merupakan kompetensi yang harus ada bila menjalankan bisnis. Mayoritas bisnis memiliki kompetensi diperlukan. Disebut kompetensi inti apabila ada faktor pembeda dibanding pesaing.

Apa pembeda BB dari Nokia? Contoh kecil tetapi berdampak besar adalah personal identification number (PIN). Tak peduli kaum profesional hingga pelajar, jika saling bertemu, yang ditanyakan pertama kali adalah PIN-nya. Ini merujuk pada BB. Sekaligus juga memberi gengsi tinggi bagi pemiliknya bahwa dia bagian dari penduduk virtual karena menggunakan BB. PIN, sebentuk ikon amat sederhana tetapi menjadi kompetensi pembeda yang tidak dimiliki para pesaing BB, termasuk Nokia.

Syarat ketiga disebut dapat diperluas. Artinya, kompetensi inti dapat diimajinasikan sekaligus didesain untuk dikembangkan pada pasar baru, kegunaan baru, tantangan baru, bahkan nilai baru. Sekali lagi BB memenuhi syarat menyoal kompetensi inti dapat diperluas. Ketika memenangi pemilu, tersiar kabar bahwa Barack Obama menggunakan BB untuk urusan semua komunikasi, baik kepada tim kampanye, penyumbang dana maupun konstituennya. Arsene Wanger, pelatih flamboyan Arsenal, terpaksa menunda kontrak dengan salah seorang pemainnya akibat sedang menyaksikan Piala Dunia di Afrika Selatan dan BB-nya tertinggal di London. Padahal, semua draf kontrak tersimpan dalam BB-nya. Itulah kompetensi inti dapat diperluas yang dimiliki BB. BB tidak sekadar alat komunikasi semata, tetapi telah menjadi kantor berjalan yang multifungsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s