EVA Momentum: Rasio Tunggal Pengukur Kinerja

Kinerja bisnis biasanya diukur dan dievaluasi dengan menggunakan rasio. Return on equity (ROE), return on investment (ROE), return on capital employed (ROCE) merupakan beberapa rasio yang sering dipakai oleh investor untuk menilai kinerja sebuah bisnis.

Karena ingin mendongkrak rasio ini (terutama ROE), perusahaan sering berusaha memperkecil ekuitasnya dengan memakai utang (debt) sebagai leverage. Di saat ekonomi baik, utang bekerja sebagai leverage positif. Perusahaan akan memiliki ROE yang bagus terus-menerus. Sebaliknya, di saat krisis menerpa, utang ini akan menjadi beban. Perusahaan yang terlalu banyak memakai leverage dari utang kemungkinan besar akan mengalami kesulitan di saat ekonomi sulit, misalnya di krisis global 2008/09.

Tahun 1990-an, Bennett Stewart dan Joel Stern mengemukakan konsep EVA (Economic Value Added) sebagai alat ukur penciptaan nilai (value creator). EVA didefinisikan sebagai nilai sisa pengurangan opportunity cost of invested capital dari net operating profit after tax. Secara matematis, EVA dirumuskan sebagai NOPAT – (capital invested X WACC)). Konsep pengukuran penciptaan nilai dengan EVA ini begitu diakuinya sampai perusahaan sekelas Coca- Cola, GE dan AT&T pun menggunakan konsep ini sebagai alat manajemennya.

Mari kita lihat perbedaannya dari akuntansi tradisional. Katakanlah sebuah perusahaan memiliki modal (utang dan saham) Rp 10 juta dan mendapatkan untung Rp 1 juta. Akuntansi tradisional akan mengatakan bahwa perusahaan mendapatkan tingkat pengembalian modal sebesar 10%. Masalahnya, bagaimana kalau, misalnya, bunga utang dan tingkat pengembalian saham yang diminta adalah 15%? Dari sudut pandang EVA, perusahaan tersebut sebenarnya mengalami penurunan nilai pemegang saham sebesar 5%.

Pada 2006, Stewart memisahkan diri dari Stern dan mengembangkan konsep EVA lebih lanjut. Konsep EVA “turunan” ini diberi nama EVA Momentum. Pada musim semi 2009, Stewart menulis pemikirannya untuk pertama kalinya dalam artikel ”EVA Momentum: The One Ratio that Tells the Whole Story” di Morgan Stanley Journal of Applied Corporate Finance.

Apa yang membedakannya dari EVA generasi sebelumnya? EVA Momentum memakai perubahan EVA dibagi dengan penjualan dari satu periode sebelumnya. Katakanlah penjualan sebuah perusahaan di periode sebelumnya Rp 100 juta, sedangkan EVA-nya naik Rp 1 juta, berarti EVA Momentum-nya adalah 1%.

Rasio ini menjelaskan segalanya dengan gamblang mengenai kinerja sebuah bisnis. Apabila EVA Momentumnya positif, artinya kinerjanya tumbuh. Apabila negatif, artinya kinerjanya mundur. Tidak ada multiinterprestasi atas rasio ini. Stewart menyatakan bahwa rasio EVA Momentum merupakan rasio di mana “lebih besar pasti lebih baik”.

Stewart juga mengemukakan bahwa rasio ini sudah mencakup semua alat ukur, misalnya efisiensi pendapatan, kekuatan harga, business mix, pengelolaan aset, pertumbuhan dan strategi. Angka nominator (pertumbuhan EVA) merupakan hasil dari manajemen finansial dan operasional, sedangkan angka bawah (pertumbuhan penjualan) adalah hasil dari manajemen pemasaran.

“Rahasia” untuk meningkatkan rasio apa pun adalah menurunkan pembaginya sebesar mungkin. Rahasia untuk meningkatkan ROE adalah dengan menekan ekuitasnya serendah mungkin (dan memakai utang sebanyak mungkin). Dalam EVA Momentum, manajemen tidak mungkin bisa menekan pembaginya karena angka tersebut adalah nilai penjualan periode sebelumnya. Lebih lanjut, EVA Momentum juga mengukur nilai EVA dan penjualan dari waktu ke waktu, sehingga manajemen tidak memiliki insentif untuk memanipulasi angkanya untuk periode tertentu karena akan mempersulit dirinya di masa depan.

Dalam risetnya, Stewart mengemukakan bahwa perusahaan yang memiliki pertumbuhan EVA Momentum terbaik dalam waktu lima tahun terakhir adalah Gilead Sciences (24,3%), Google (22,7%) and Apple (12,1%).

Konsep EVA Momentum memang masih sangat baru. Fortune edisi 18 Januari 2010 mengklaim dirinya sebagai majalah pertama yang mengulas EVA Momentum. Mungkin SWA merupakan majalah pertama di Indonesia yang mengulas konsep ini. Semoga di edisi EVA tahun ini, SWA memelopori adopsi konsep EVA Momentum di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s