Kincir Angin atau Tembok Tinggi

When the storm comes, some build walls, the others build windmills. (Peribahasa Cina).

Tahun 2015 implementasi perdagangan bebas di Asia Tenggara semakin luas. Ditambah dengan koneksivitas ASEAN dan Cina, pola aliran barang, modal, teknologi dan manusia semakin mudah. Negara menjadi semakin sempit dan bersinggungan. Batas negara hanya menjadi batas politik dan keunikan pelanggan menjadi penyekat perdagangan bebas.

Apalagi nanti di tahun 2020, menurut Thomas Friedman, dunia semakin datar. Hambatan tarif akan semakin kecil. Pelanggan dimanjakan karena mendapat alternatif pilihan yang lebih beragam, yang selama ini masih terganjal oleh regulasi pemerintah setempat. Itu bukan berita baru. Tahun 2000-an sudah mulai diwacanakan.

Sepuluh tahun sesudah genderang dibunyikan, terlihat ada peserta pertandingan yang mulai sempoyongan. Yang tidak pernah mempersiapkan diri, menjadi panik dan mulai mengusulkan ide yang sangat menggelikan. Ketidakmauan mempersiapkan diri harus dibayar mahal pada paruh perjalanan ini.

Kelompok ini menjadi promotor ide “pembangunan tembok besar Cina kedua” untuk menghambat dan menghalangi kesepakatan bersama yang meruntuhkan tembok Berlin di arena perdagangan. Usulan pemunduran jadwal, proteksi baru dengan inovasi tarif dan pajak yang lebih kreatif untuk menyiasati loophole yang ada. Kelompok ini melihat tahun 2015 dan 2020 merupakan badai besar yang hanya bisa ditangkis dengan pembangunan tembok besar agar diri mereka selamat dan aman.

Bagi para pengambil keputusan yang hanya memikirkan masalah popularitas dan simpati menarik konstituen baru akan mengamini dan mendukung rencana pembangunan tembok besar kedua. Tanpa sadar golongan elite ini membantu pengusaha yang sebenarnya tidak siap.

Mereka tidak menyokong pengusaha yang menyiapkan diri dengan baik untuk mendominasi pasar dalam negeri dan bersiap invasi di kawasan yang makin terbuka. Mereka hanya memikirkan kepentingan jangka pendek dengan mengorbankan kedaulatan negara di jangka panjang, yakni kedaulatan melalui penguasaan teknologi, sumber daya manusia dan sumber daya alam yang berdaya saing tinggi – bukan daya saing yang diproteksi dengan tembok besar kebijakan yang propecundang.

Sedih sekali memang melihat sepak terjang para pecundang ini yang senantiasa melihat dirinya sebagai korban (viktim) ketika badai besar tiba di tahun 2020. Sikap pesimistis ini membuat mereka merengek untuk mundur lima langkah. Kembali ke zaman proteksionis untuk melindungi pecundang yang memang tidak mau bersiap buat menang.

Sebaliknya, ada kelompok lain yang justru melihat badai sedang 2015 dan badai besar 2020 dengan perspektif sebagai pemenang (viktor). Mereka tidak menyiapkan tembok besar, melainkan menyiapkan kincir angin besar untuk menyerap energi destruktif menjadi energi konstruktif.

Konversi ini akan berakibat positif bagi semua. Bahwa menyiapkan kincir angin ini memerlukan proteksi pemerintah adalah hal yang wajar, agar selama masa konstruksinya tidak diganggu pihak lain yang tidak mau bersiap maju. Kelompok peserta progresif inilah yang seharusnya didukung agar pada masanya nanti muncul sebagai pemain tingkat global.

Di arena politik, kondisi juga berlaku sama. Kelompok yang siap dan mau maju selalu membangun kincir angin untuk menangkap badai pemilu 2014. Sementara bagi yang merasa akan kalah, bersama bahu-membahu meminta pembangunan tembok besar untuk memproteksi mereka yang “masih bayi dan masih kecil”. Apalagi yang sedang didera prahara politik besar seperti kader yang tersangkut dugaan korupsi, para petinggi partai yang protektif hendak mengupayakan pembangunan tembok besar untuk melindungi kepentingan partainya.

Lebih menarik lagi disimak, sebenarnya kedua sifat itu juga ada dalam setiap hati manusia. Sifat yang satu adalah pecundang yang melihat tantangan sebagai problem yang bakal menghancurkannya (pesimistis) dan membuatnya jadi korban (viktim). Sifat yang lain adalah pemenang (viktor) yang melihat tantangan sebagai peluang. Keduanya eksis dan selalu akan hidup berdampingan. Sama kuat dan saling kalah-mengalahkan dalam situasi berbeda. Itu sebabnya budaya Cina merumuskannya dalam bentuk keseimbangan yin yang. Ada yang bersifat dingin (defensif) dan bersifat panas (invasif). Keduanya selalu berada pada posisi at par.

Pertanyaannya, bagaimana membuat banyak orang berpikir sebagai pemenang sehingga kita muncul sebagai bangsa pemenang? Pertama, dimulai dari individu yang memiliki sikap progresif untuk memenangi masa depan (winning the future) bukan menang di masa depan (winning in the future). Winning the future artinya berani investasi saat ini untuk masa depan yang sudah didefinisikan. Bukan mempertanyakan dan kerja seadanya semoga menang di masa depan. Ini adalah sikap pengusaha dan pemimpin yang antisipatif dan invasif tidak sekadar reaktif dan defensif.

Kedua, dilanjutkan dengan institusi yang memiliki anggota yang berasal dai para jawara. Organisasi yang diisi dengan anggota yang bermental juara tidak akan mudah merengek minta perlindungan. Ini berawal dari rekrutmen yang tepat, pendidikan yang terarah dan pengembangan yang sistematis. Tidak mengakomodasi jalan pintas. Institusi yang berisi anggota kutu loncat yang oportunis akan sangat sulit mengembangkan sikap kesatria pemenang. Ia hanya akan berkembang sebagai institusi yang berbudaya oportunis. Kalau sudah begini, akan sangat sulit mengharapkan mereka menjadi pendukung individu pemenang.

Ketiga, dikuatkan dengan kebijakan pemerintah yang propemenang. Regulasi dibuat untuk sektor dan organisasi yang bisa berkiprah di tingkat global. Setidaknya, kalau mereka pemain lokal, mampu bersaing dengan pemain global di negeri sendiri. Kebijakan ini kalau konsisten dijalankan akan melahirkan organisasi pemenang yang akan membawa harum nama bangsa.

Kalau ketiga hal itu tidak dijalankan, bahkan sebaliknya muncul kebijakan populis yang propecundang, kondisi kita semakin parah. Sebagai bangsa ataupun sebagai individu yang menyemai benih pecundang dalam dirinya, akan menjadi manusia yang pemarah, sensitif, serta pemberontak yang sangat merugikan diri sendiri, keluarga dan negara. Ayo kita bangun bangsa pemenang, dengan kebijakan yang propemenang, untuk institusi yang berorientasi kemenangan dari para individu yang bermental jawara. Saya yakin, kita bisa.

*Penulis best sellerBuilt to Bless, Lead to Bless Leader, Balancing Your Life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s