Optimisme Wirausaha Indonesia

“Apakah Anda mau berdesak-desakan melamar pekerjaan, berkompetisi dengan ribuan
orang, sebagaimana terlihat di slide ini?” Demikian pertanyaan retoris
Abbie Angkasa Perdana dalam Forum Bisnis yang belum lama ini diselenggarakan ESQ
Way di Menara 165, Jakarta.

Pertanyaan dan slide foto yang ditampilkan Abbie, pemilik Satu Solusi Intermedia, memang terlihat menggugah. Tampak ribuan orang antre berdesakan guna menyampaikan CV dan aplikasi lamaran kerja dalam ekspo job. Abbie bahkan menambahkan bahwa pernah dalam suatu ekspo beberapa pelamar meninggal dunia akibat mengalami insiden kerasnya impitan arus manusia.

“Mengapa teman-teman tidak memilih menjadi pengusaha, entrepreneur. Tidak saja Anda terbebaskan dari perjuangan melelahkan mencari pekerjaan, tetapi justru akan mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” demikian tantangan Abbie.

Pembicara lainnya, Elang Gumilang “sang miliarder muda” dan Hendy Setiono “Baba Rafi” seakan makin menggelorakan semangat para peserta yang mayoritas mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia. Hadirin tercerahkan, terinspirasi dan teryakinkan bahwa pilihan menjadi wirausaha adalah mulia, memberikan kebaikan bagi masyarakat di sekitar, dan bahkan bagi Indonesia tercinta.

Penulis yang kebetulan kerap mengamati kewirausahaan juga merasakan inspirasi dan gelora dari Forum Bisnis tersebut. Namun yang lebih penting, tampak betapa besar semangat sebagian generasi muda Indonesia dalam berkarya melalui kewirausahaan. Mereka kreatif, inovatif dan yang lebih penting lagi, berdaya juang tinggi. Kegagalan tidak dianggap sebagai akhir, melainkan justru dijadikan “gizi” untuk bertransformasi menuju penguatan individu ataupun sistem bisnisnya.

Optimisme inilah yang sesungguhnya penting digarisbawahi. Bahwasanya kesuksesan bukanlah pencapaian yang dapat diperoleh secara instan. Ia berproses, terkena gempuran dari berbagai penjuru, dan terus mencari solusi. Dari proses tersebutlah akhirnya dicapai kesuksesan. Hal ini kemudian terus dikembangbiakkan, ditularkan kepada orang lain, dan menjadi kesuksesan bersama.

Elang Gumilang bercerita bahwa kariernya sebagai pengusaha dimulai di tahun awal perkuliahannya. Kini, omsetnya telah mencapai puluhan miliar rupiah. Luar biasa.

Satu nilai yang perlu ditarik dari pengusaha muda seperti Elang adalah pengutamaan berbagi dan menyantuni orang tidak mampu. Mereka tidak semata-mata berbisnis mencari uang, tetapi niatnya memang ditujukan untuk memberi dan tumbuh bersama-sama. Dalam bahasa mereka, spiritual happiness.

Hal itu pula yang dicontohkan Hendy Setiono dengan merek Baba Rafi-nya yang fenomenal. Setelah sukses, Hendy merekrut seorang office boy bernama Mas Mono yang jago membuat ayam bakar, sehingga akhirnya mencuat merek Ayam Bakar Mas Mono. Dengan kata lain, Hendy tidak ingin kesuksesannya hanya bagi diri sendiri, tetapi juga harus menular ke orang lain, bahkan dari kalangan bawah.

Sikap di atas, seperti berani memulai dari bawah, pantang menyerah melawan kegagalan, dan tentu saja berbagi, jika dapat menyebar ke penjuru Indonesia sesungguhnya akan memberikan optimisme bagi negeri ini. Optimisme seperti ini perlu dipatrikan ke dalam sanubari anak bangsa Indonesia, apa pun profesi yang digeluti.

Tentu saja profesi sebagai pebisnis perlu terus dikampanyekan ke dalam berbagai sendi masyarakat kita. Bisa sebagai wirausaha murni alias full time, bisa pula sebagai part-timer tanpa harus meninggalkan pekerjaan saat ini. Kewirausahaan membuka pintu rezeki yang besar sekaligus memiliki dampak ganda (multiplier effect) yang tak berbatas.

Di Swiss di mana penulis saat ini berdomisili, terlihat jelas kewirausahaan sangat menonjol. Data menunjukkan, perekonomian Swiss sebagian besar didorong oleh kewirausahaan, bahkan sekitar 90% merupakan kontribusi dari pengusaha kecil dan menengah. Dari sekitar 7,8 juta penduduk Swiss, lebih dari 300 ribu orang adalah pengusaha. Kewirausahaan masyarakat Swiss memang tersebar, tidak hanya di daerah perkotaan tetapi juga di pelosok gunung atau danau yang memang menyelimuti negeri makmur itu.

Bandingkan dengan Indonesia, yang kalangan masyarakat wirausahanya baru sekitar 0,5%. Persentase ini masih dianggap jauh dari memadai. Maka, salah satu tantangan bangsa ini: bagaimana mewirausahakan anak bangsanya, untuk menjadi figur seperti Elang-Abbie-Hendy di masa depan.

Fenomena Swiss merupakan gambaran umum di negara maju yang memang giat menumbuhkembangkan kewirausahaan. Jika kita lihat lebih dalam di Amerika Serikat, Jepang, Singapura atau negara maju lainnya, tampak jelas bahwa geliat perekonomian negaranya ditopang kewirausahaan. Kemajuan perekonomian tersebut menjadi pendorong kemajuan di bidang lainnya, seperti inovasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial politik. Tidak salah jika kerap didengungkan bahwa kemajuan perekonomian adalah indikator utama maju-tidaknya suatu bangsa.

Tentu saja kepada para wirausaha muda Indonesia, kita layak berterima kasih. Kita pun berharap agar mereka terus belajar dan mengajar, menularkan ilmu dan semangatnya kepada generasi muda lainnya. Pemerintah pun diharapkan terus mendorong generasi muda seperti ini, baik melalui skema pelatihan, kemudahan kredit perbankan, maupun berbagai insentif pendorong lainnya.

Adapun yang kiranya perlu mendapatkan perhatian dari pengusaha muda seperti Elang, Abbie, Hendy dan yang lainnya adalah sebagai berikut. Pertama, inovasi berkesinambungan (sustainable innovation). Lazim diketahui bahwa apa pun jenis usaha akan tetap survive ketika inovasi terus dijalankan. Mengingat era saat ini dan ke depan adalah knowledge economy, perlu menjadi perhatian agar sektor bisnis yang ditekuni juga memperhatikan faktor bermuatan knowledge, seperti teknologi, hak kekayaan intelektual, dan berbagai jenis nilai tambah lainnya.

Kedua, tak pernah henti belajar (sustainable learning). Dapat dipastikan, bisnis adalah dunia yang penuh kompetisi. Sudah menjadi keniscayaan bahwa untuk semakin sukses, atau sekadar survive memelihara kesuksesan, pelaku usaha harus tak pernah berhenti belajar. Belajar dapat dilakukan di mana saja dan dengan siapa pun, tanpa harus terpaku pada institusi formal. Street is the best school, demikian salah satu nubuat dari Rich Dad-nya Robert Kiyosaki.

Ketiga, terus berbagi (sustainable sharing and caring). Ketulusan berbagi yang ditunjukkan para wirausaha muda di atas sudah menunjukkan hasil, sehingga layak menjadi contoh bagi siapa pun. Kiranya sikap seperti ini harus terus dipelihara. Tidak saja hal ini dapat mengurangi kesenjangan antara the haves dan the haves not, melainkan pula akan memberi dampak ganda positif bagi perekonomian nasional. Terlebih ketika kelompok the haves not turut berproduksi, misalnya menjadi wirausaha.

Diharapkan pula agar para wirausaha sukses seperti Elang, Abbie, Hendy terus mendorong dan mengajak generasi muda lainnya turut menjadi pengusaha. Jika pebisnis sukses dan berintegritas seperti mereka jumlahnya semakin berlipat ganda, tak perlu sangsi bahwa masa depan negeri ini akan semakin meniti tangga optimisme. Alhasil, pertanyaan yang dilontarkan Abbie di atas pun, niscaya tak akan terlontar lagi.

*Penulis: Diplomat dan pemerhati kewirausahaan, bertugas di Jenewa, Swiss.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s